Nah, soal ini, ada sepenggal kata yang sering dikaitkan dengan Imam Syafii. Bunyinya kira-kira begini: "Saat kamu menyampaikan kebenaran, maka kamu akan mendapatkan dua reaksi yang berbeda. Orang cerdas akan merenung, sedangkan orang bodoh akan tersinggung, karena sulit meyakinkan lalat bahwa bunga jauh lebih indah daripada sampah."
Jujur ya, bagian "lalat dan sampah" itu sederhana banget, tapi nusuk. Saya sendiri kalau lagi kena teguran atau kritik, kadang refleksnya juga pengen defensif dulu. "Ah, dia nggak paham situasiku." "Dia mah cuma nyari kesalahan." Tapi lama-lama, kalau dipikir lagi, reaksi awal itu sering kali cuma ego yang lagi terluka, bukan logika yang lagi jalan.
Kenapa Orang Cerdas Cenderung Merenung?
Bukan berarti orang cerdas itu nggak punya perasaan, ya. Mereka juga bisa sakit hati. Bedanya, mereka kayak punya jeda sebentar antara "kena tegur" dan "bereaksi". Di jeda itulah mereka mikir: "Oh, ada benernya juga nih." Atau minimal, "Mungkin cara dia nyampein kurang enak, tapi isinya perlu gue pertimbangkan."
Merenung di sini bukan berarti diam seribu bahasa terus mengiyakan semuanya. Merenung artinya membiarkan kebenaran itu masuk, diolah, baru diambil pelajaran. Kalau memang nggak cocok, ya ditolak dengan alasan yang jelas, bukan dengan emosi semata.
Sementara yang Tersinggung...
Di sisi lain, ada tipe yang begitu dengar hal nggak enak, langsung naik tembok. Bukan isi pesannya yang dinilai, tapi siapa yang ngomong, gimana caranya ngomong, atau bahkan sekadar feeling nggak enak aja udah cukup bikin dia offended.
Nah, di sinilah perumpamaan lalat tadi jadi lucu sekaligus sedih. Lalat itu nggak salah kok, dia cuma punya selera yang beda. Buat lalat, tumpukan sampah ya memang surga. Baunya mengundang, ada sisa-sisa makanan, pokoknya lengkap. Bunga? Wangi, warnanya cantik, tapi buat lalat ya nggak menarik secara naluri. Jadi kalau ada yang bilang "bunga lebih indah dari sampah", lalat nggak akan pernah paham. Bukan karena lalat bodoh secara intelektual, tapi karena preferensi dan kebiasaannya sudah terlanjur nyaman di tempat yang menurut kita nggak layak.
Sama kayak orang yang tersinggung tadi. Kadang bukan karena dia nggak mampu memahami kebenaran, tapi karena dia sudah terlalu nyaman dengan "sampah"-nya sendiri—entah itu kebiasaan buruk, pola pikir yang salah, atau gengsi yang udah dipelihara bertahun-tahun. Jadi saat kebenaran datang menawarkan "bunga", reaksinya bukan tertarik, tapi merasa terancam.
Jadi, Harus Gimana?
Pertama, mungkin kita perlu lebih sadar: nggak semua orang siap dengar kebenaran. Dan itu nggak selalu salah kita. Kadang kita memang perlu memilih audiens, atau setidaknya memilih waktu dan cara yang lebih pas. Menyampaikan kebenaran itu bukan cuma soal isi, tapi juga soal kapan dan gimana.
Kedua, kalau reaksinya ternyata negatif, jangan langsung baper. Kembali ke kata-kata tadi: ada yang merenung, ada yang tersinggung. Tugas kita cuma menyampaikan dengan cara terbaik. Sisanya, biar waktu dan kesadaran masing-masing yang bekerja. Kita nggak bisa memaksa lalat untuk tiba-tiba jatuh cinta sama bunga.
Ketiga, dan ini yang paling penting: kita juga perlu jujur sama diri sendiri. Jangan-jangan, di beberapa area hidup, kita juga lagi jadi "lalat" yang ngotot bilang sampah itu lebih nyaman daripada bunga. Mungkin ada teguran, kritik, atau saran yang selama ini kita tolak mentah-mentah cuma karena kita belum siap lihat cermin.
Pada akhirnya, kata-kata Imam Syafii ini bukan cuma soal menilai orang lain cerdas atau bodoh. Lebih dari itu, ini semacam pengingat buat kita: saat kebenaran datang, mau jadi yang merenung atau yang tersinggung? Pilihan itu ada di kita masing-masing, kok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
