Nasihat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sering kali menjadi oase bagi jiwa yang sedang lelah menghadapi dinamika hubungan antarmanusia. Salah satu pesan beliau yang paling populer dan relevan hingga saat ini adalah:
"I’tazil maa yu’dzika"
(Jauhilah apa saja yang menyakitimu/mengganggumu)
Pesan ini bukan sekadar kata mutiara, melainkan sebuah prinsip manajemen diri dan kesehatan mental yang bersumber dari hikmah kenabian.
Sumber Referensi dalam Literatur Islam
Pesan ini tercatat dalam berbagai kitab klasik, salah satunya yang paling masyhur adalah dalam Kitab Syu’abul Iman karya Imam Al-Baihaqi.
Dalam riwayat lengkapnya, Umar bin Khattab berkata:
“Hendaknya kamu menjauhi apa yang menyakitimu, dan hendaknya kamu bersikap jujur, serta janganlah kamu bertanya tentang hal yang tidak bermanfaat bagimu...”
Pesan ini menekankan bahwa seorang Muslim memiliki hak bahkan kewajiban untuk menjaga ketenangan hatinya dari gangguan yang tidak perlu, baik itu berupa situasi, perbuatan, maupun lisan orang lain.
Makna Filosofis: Menjauh Bukan Berarti Lemah
Sering kali kita merasa "tidak enak hati" untuk membatasi diri dari lingkungan yang toksik. Namun, nasihat Umar bin Khattab ini memberikan perspektif berbeda:
1. Menjaga Fokus Ibadah dan Produktivitas
Gangguan (hal yang menyakiti) sering kali menyita energi emosional. Dengan menjauh dari hal tersebut, seseorang dapat mengalihkan energinya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.
2. Bentuk Penjagaan Hati (Self-Preservation)
Hati manusia itu lemah, sedangkan syubhat dan gangguan itu menyambar-nyambar. Menjauh adalah tindakan preventif agar rasa benci, dendam, atau sedih tidak berlarut-larut mengotori hati.
3. Memilih Lingkungan yang Tepat
Umar bin Khattab juga sering berpesan agar kita berkumpul dengan saudara-saudara yang jujur. Maka, perintah untuk "menjauhi yang menyakiti" secara otomatis adalah perintah untuk "mendekati yang memperbaiki."
Implementasi di Era Modern
Bagaimana kita menerapkan pesan ini di zaman sekarang? Berikut beberapa bentuk implementasi praktisnya:
Media Sosial: Berhenti mengikuti (unfollow) atau membisukan (mute) akun yang memicu rasa dengki, amarah, atau rasa rendah diri yang tidak sehat.
Lingkaran Pertemanan: Memberikan batasan (boundaries) yang tegas terhadap orang-orang yang secara konsisten merendahkan atau merugikan kesehatan mental Anda.
Konflik Sia-sia: Menghindari perdebatan yang tidak menghasilkan solusi, hanya demi memenangkan ego.
Pesan Umar bin Khattab ini adalah pengingat bahwa ketenangan batin adalah aset yang mahal. Islam tidak memerintahkan kita untuk menjadi "keset kaki" yang pasrah diinjak-injak oleh keadaan yang menyakitkan.
Menjauh bukan berarti memutus silaturahmi secara kasar, melainkan mengatur jarak aman agar diri kita tetap bisa berfungsi dengan baik sebagai hamba Allah. Seperti yang sering dikutip,
"Menjauh demi kebaikan diri sendiri adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah dengan menjaga titipan-Nya, yaitu jiwa kita."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT